Berani Mencoba

Pernahkah suatu saat bertemu dengan seseorang yang bangga karena tidak pernah melakukan kesalahan sebagai konsekuensi logis karena dia juga jarang melakukan sesuatu. Menyebalkan ya??

Padahal bukankah mencoba dan salah –trial and error– adalah ajang untuk menguji seberapa banyak kita menggunakan akal dan potensi kita dalam berkreasi dan memenangkan kehidupan untuk memperoleh hasil akhir yang baik. Jika coba direnungkan betapa kita lebih sering merasa nyaman atas ketidak-salahan kita, padahal kesalahan adalah aset sebab ia merupakan umpan balik tentang bagaimana kita melakukan sesuatu. Berarti jika kita tidak melakukan kesalahan, jangan-jangan kita memang tidak pernah melakukan sesuatu. Para pemenang melakukan banyak kesalahan daripada para pecundang. Itu sebabnya mereka sukses, sebab mereka terus belajar dari kesalahan dan berusaha memperbaiki kesalahan itu.

Thomas Alfa Edison adalah legenda. Ketika ada seseorang yang bertanya bagaimana perasannya ketika ia berkali-kali gagal saat membuat bola lampu. Ia menjawab baha ia sama sekali tidak gagal, melainkan berhasil menemukan beribu-ribu cara untuk membuat bola lampu. Dengan penyikapan yag sehat terhadap kegagalan seperti itu, maka Edison berhasil memberi sumbangan kepada dunia, sumbangan yang tetap terpatri selamanya pada sejarah.

Werner von Braun adalah contoh yang lain. Selama Perang Dunia II ia menciptakan roket yang oleh Jerman diharapkan bisa meluluhlantakkan London. Selang berapa lama para atasannya memanggil dan meminta pertanggungjawabannya sebab von Braun telah melakukan 65.121 kesalahan. Atasan itu pun bertanya, “Berapa banyak kesalahan lagi yang kamu butuhkan agar roket itu bisa digunakan?” Ia menjawab bahwa ia akan berhasil setelah 5.000 kali lagi melakukan kesalahan. Untuk membuat roket membutuhkan 65.000-an kesalahan, Rusia sudah melakukannya 30.000-an kali sedang Amerika belum sama sekali. Maka dipenghujung perang itu Jerman telah menghantam musuh-musuhnya dengan rudal balistik von Braun.

Jangan takut untuk berbuat salah, daripada tidak berani melangkah. Pilih yang mana? Tanpa kesalahan, tanpa prestasi, atau sesekali salah selanjutnya berprestasi??

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s