Quo Vadis Gerakan Mahasiswa di Masyarakat

Memuncaknya kesadaran masyarakat terhadap berbagai penindasan terhadap haknya, surutnya kepercayaan mereka terhadap wakilnya akibat pengkhianatan atas amanat yang diberikan serta ketidak adilan yang menciptakan jurang yang dalam, membuahkan tanda tanya besar kemanakah peran gerakan mahasiwa yang beberapa waktu yang lalu dengan bangga menyebut dirinya Agent Of Change?

Mahasiswa merupakan salah satu kelompok dalam masyarakat yang dipandang mempunyai tingkat intelektual yang lebih. Hal ini disebabkan mahasiswa merupakan orang-orang yang mendapatkan dan menjalani pendidikan secara lebih mendalam bila dibandingkan dengan siswa sekolah menengah. Selain itu, tidak semua orang dapat menjadi mahasiswa dan menjalani pendidikan di perguruan tinggi. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti biaya yang cukup besar maupun keterpurukan dunia pendidikan dan dunia kerja kita sehingga memunculkan pandangan banyak koq sarjana yang menganggur.


Mahasiswa sebagai salah satu kelompok intelektual sebenarnya diharapkan dapat mengaktualisasikan ilmu yang diperolehnya selama menjalani pendidikan di perguruan tinggi itu dalam masyarakat. Meskipun pada kenyataannya, sebagian besar mahasiswa belum mampu untuk menerapkan ilmunya tersebut dalam masyarakat. Bahkan bukannya belum mampu, ada kecenderungan mahasiswa tidak mau membagikan ilmunya untuk kepentingan kesejahteraan masyarakat. Ilmu yang telah diperolehnya digunakan hanya untuk dirinya sendiri atau sebagai bekal untuk mendapatkan pekerjaan di masa yang akan datang. Asumsinya bahwa dengan ilmu tersebut mahasiswa jangan sampai tidak mendapatkan pekerjaan atau mendapatkan penghasilan yang kurang sesuai dengan pengeluaran untuk biaya perkuliahannya. Secara tersirat tampak adanya kecenderungan pelaksanaan kapitalisme oleh mahasiswa atas ilmu yang diperolehnya. Memang itu adalah hak mahasiswa, namun alangkah baiknya jika ilmunya dapat dibagikan kepada masyarakat sehingga masyarakat merasa terbantu untuk meningkatkan kesejahteraannya. Mungkin untuk sekedar menampik kapitalisme yang dilakukan oleh mahasiswa tersebut maka digelarlah suatu bentuk kegiatan perkuliahan aplikatif bermerek KKN (Kuliah Kerja Nyata), dengan memobilisasi mahasiswa ke seluruh penjuru daerah hingga ke desa.

Di satu sisi, masyarakat daerah kita, akhir-akhir ini sangat gandrung menyuarakan aspirasinya secara langsung, demokrasi katanya. Begitu mendengar kata demokrasi, bayangan kita langsung tertuju pada sebuah gambaran masyarakat yang madani, terjamin hak-hak sosialnya, menghargai pendapat orang lain, terjamin hak-hak asasi tiap-tiap warganya, setiap warga mempunyai hak-hak yang sama di depan hukum, serta kehidupan ekonomi daerah yang makmur dan merata.

Kita begitu tergiur untuk menempatkan demokrasi sebagai satu-satunya cara yang paling tepat dalam rangka menata kembali kehidupan bermasyarakat bahkan untuk cakupan yang lebih luas berbangsa dan bernegara yang hingga kini memang masih belum menentu arahnya. Demokrasi telah menghinggapi kita walaupun entah demokrasi yang bagaimana yang cocok dengan model budaya kita.

Sejarah gerakan dan perjuangan pelajar dan mahasiswa telah menjadi bagian dari sejarah panjang bangsa ini. Mahasiswa telah memainkan peranan besar dalam rangka membangkitkan kesadaran bangsa, bahwa kita masih terjajah, bahkan hingga saat ini! Mahasiswa sangat penting peranannya dalam membawa kesadaran yang baru bagi masyarakatnya. Saya sangat setuju bahwa mahasiswa bukanlah seperti seorang pahlawan bertopeng dalam film kartun yang bisa berjuang sendirian dan pasti menang. Keunggulan gerakan mahasiswa, menurut saya, justru terdapat pada kemampuannya dalam memberikan percikan api kesadaran dalam gua kungkungan kebekuan (baca : kesuntukkan) masyarakat dalam memahami dirinya yang terjajah bahkan oleh wakil rakyatnya sendiri dan mengajak masyarakat untuk berjuang dalam garis perjuangan yang sama.

Masyarakat kita selalu dinamis, selalu akan berkembang dan berubah dari waktu ke waktu. Kita memang harus belajar dari sejarah bahwa suatu masyakarat mempunyai kemungkinan yang sama untuk maju dan berkembang, sama halnya untuk mundur bahkan hancur. Semua warga masyarakat tentu menginginkan kemajuan, perbaikan, serta kemaslahatan bagi seluruh bangsa ini, seperti telah diamanatkan oleh Bapak-Bapak pendiri bangsa ini, sebuah cita-cita masyarakat yang lebih adil dan makmur.

Keadilan sosial telah menjadi tuntutan setiap anggota masyarakat. Berawal dari tuntutan-tuntutan itulah kemudian memunculkan sebuah cita-cita masyarakat madani. Tentu saja, kemunculan cita-cita suatu bangsa tidak terlepas dari idealisme falsafah bangsa kita yang didalamnya termaktub segala ide-ide kemanusiaan dan kebangsaan Indonesia yang mendasarkan diri pada segala faham agama dan aliran-aliran politik Indonesia yang majemuk.

Dalam masyarakat madani, puncak-puncak ekonomi tidak seharusnya hanya dikuasai oleh segelintir orang, apalagi hanya berasal dari golongan tertentu yang mengakibatkan munculnya kecemburuan sosial sebagai dampak keadilan ekonomi yang porak poranda. Mau tidak mau, pemerataan ekonomi inilah yang akan menjadi tonggak pengukuran kemadanian bermasyarakat. Pada akhirnya, kita memerlukan sebuah struktur ekonomi yang transparan dan berkeadilan sosial. Menurut hemat saya disitulah kuncinya transparan dan adil, bisa dikatakan transparan dengan terbuka mengatakan akan melakukan studi banding ke luar negeri dengan biaya 1,5 Milyar walaupun abstrak hasil dan pertanggungjawabannya, tapi apakah adil dana itu digunakan anjangsana ke negeri seberang sementara di rumah sendiri kondisi perekonomian masyarakat masih terhimpit? Kesempatan ekonomi haruslah terbuka lebar bagi siapa saja yang berkehendak untuk mencapainya dengan cara-cara yang berdasarkan hukum keadilan ekonomi itu sendiri, bukan berdasarkan hukum rimba; yang menang hanya mereka yang kuat, sedangkan si lemah semakin sekarat!

Perjuangan menuju keadilan haruslah berprinsip pada keadilan serta tanggung jawab tiap-tiap warga tanpa terkecuali, mulai dari unsur eksekutif, lebih-lebih lagi legislatif yang dengan bangga memproklamirkan mereka adalah wakil rakyat yang setiap pelantikannya menyatakan tugas ini adalah amanat dari rakyat, hingga merambah ke tingkat daerah, kabupaten, kecamatan, desa/kelurahan, RT/RW, bahkan keluarga sebagai basis utama masyarakat. Keadilan dan tanggung jawab tiap-tiap pribadi akan tercermin dalam sikap dan pola tingkah lakunya yang dewasa dan matang, tidak sekedar berani pasang badan. Berbagai kejadian yang terjadi dalam tata pemerintahan kita sekarang ini bukanlah aktualisasi pribadi-pribadi pejabat yang berwibawa, matang dan dewasa. Sebaliknya cenderung terkesan urakan, main menang sendiri, mata duitan, melanggar etika serta kekanak-kanakan. Sungguh sebuah lelucon yang tidak lucu, yang tidak pantas dipertontonkan pada anak-anak, yang notabene adalah kader penerus perjuangan pembangunan.

Kebutuhan akan tipe pemerintahan yang baru tumbuh secara konkrit dengan adanya perkembangan tatanan moral dan sosial serta intelektual yang baru. Pembuktian sejarah gerakan mahasiswa, sesuai dengan konteks jamannya harus memberikan kesimpulan apakah gerakan tersebut, dalam orientasi dan tindakan politiknya, benar-benar mengarah dan bersandar pada problem-problem dan kebutuhan struktural di masyarakat. Orientasi dan tindakan politik menjadi cermin bagaimana mahasiswa memahami masyarakatnya.

Karena pranata mahasiswa merupakan gejala pada masyarakat yang telah memiliki kesadaran berorganisasi, dan mahasiswa merupakan golongan yang diberikan kesempatan sosial untuk menikmati kesadaran tersebut, asumsi bahwa gerakan mahasiswa mempunyai apresiasi yang tinggi terhadap organisasi mahasiswa adalah absah. Dengan kata lain, mau tidak mau mahasiswa memang harus mulai memperhitungkan peran organisasi mahasiswa dalam gerakannya meskipun tidak ada maksud untuk tidak menghargai gerakan massa rakyat yang spontan.

Nilai lebih organisasi dalam gerakan mahasiswa hanyalah bermakna apabila di dalam organisasi mahasiswa tersebut dipenuhi serta ditempa syarat-syarat sebagai berikut :

  1. Pemahaman terhadap masyarakat beserta problem-problemnya; disini kekuatan analisis tehadap gejala pergolakan hati nurani rakyat sangat dibutuhkan, bukankah mahasiswa mempunyai standard dalam metodologi penelitian dan analisisnya?
  2. Pemihakan terhadap rakyat; tentu saja tidak asal Vox Populi Vox Dei, mahasiswa juga perlu mengkaji lebih jauh rakyat mana yang membutuhkan mereka untuk berpihak kepadanya, rakyat kita pun tidak sedikit yang telah diboncengi oleh muatan-muatan politik tertentu.
  3. Kecakapan dalam mengolah massa. Dalam suatu pergerakan tidak hanya pergerakan massa yang jadi kekuatan utama, tapi segi intelektual yang berada dipergerakan massa juga mengambil peran yang cukup dominan.

Ketiga hal di atas pada prinsipnya mencerminkan :

  1. Tujuan dan orientasi gerakan mahasiswa
  2. Metodologi gerakan mahasiswa
  3. Strukturalisasi sumber daya manusia, logistik dan keuangan organisasi
  4. Program gerakan mahasiswa yang strategik-taktik

Perjuangan mahasiswa terhadap isu-isu besar jangan berhenti, tentu dengan selalu mengingat bahwa isu besar bagi mahasiswa haruslah menjadi permasalahan yang besar bagi masyarakat sebagai people power yang paling berpotensi merubah tatanan sekaligus mengkritisinya. Dengan demikian kepedulian mahasiswa terhadap permasalahan masyarakat adalah permasalahan utama untuk menyelami akar kekuatan dari pohon besar yang bisa disebut negara. Pelajarilah akarnya, baru kita tahu apakah pohon ini masih akan hidup dan jaya ataukah segera tumbang karena kebusukan yang disebabkan metabolisme yang tidak merata?

Menurut saya, gerakan mahasiswa tidaklah terbatas pada faktor politis saja sebab inti perjuangannya adalah mencetuskan kesadaran baru pada masyarakat yang tertindas, masyarakat yang termarjinalkan oleh hukum dan kekuasaan, oleh siapa saja, kapanpun dan dimanapun. Mahasiswa selalu ditantang untuk memberikan pencerahan batin bagi siapa saja yang menghendaki keadilan bagi masyarakat. Tanpa pandang bulu, meski harus dibekali dengan pemikiran kritis dan tajam. Yang harus diperhatikan, apakah masyarakat sudah sadar? Lebih dari itu ketajaman berpikir juga perlu selalu diasah, sehingga ketika mendapat kucuran dana segar dengan nilai berjuta, organisasi mahasiswa terlena lupa fungsinya di masyarakat, jadilah dana segar itu sebagai uang tutup mulut. Lantas benarkah mahasiswa kini cuek dan impoten?

2 responses to “Quo Vadis Gerakan Mahasiswa di Masyarakat

  1. T.Muhammad.Habibie

    apakah boleh mahasiswa mendirikan organisasi yang bernaungan di partai politik?

  2. Rosyidi Hamzah

    thank s yha Bro…………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s