Membuka Situs Porno, Antara Pemanfaatan Teknologi dan Tanggung Jawab Moral

Pengalaman menjelajahi dunia maya memang suatu pengalaman pribadi yang menyenangkan sekaligus menakutkan, tidak terbayang jika membuka sebuah situs di suatu komputer baik perseorangan maupun korporat, hanya dalam beberapa detik kesenangan kita akan berubah menjadi kebingungan dan kekalutan menghadapi komputer tersebut tidak dapat dipergunakan sama sekali atau terserang virus mematikan. Dan itu kini terjadi di jaringan komputer pemprov Kaltim dan diekspose media lokal mupun nasional tentang perilaku ”abdi negara dan abdi masyarakat” di gedung megah pemerintah daerah tersebut.

Masih segar dalam ingatan pelaku IT sedunia dengan sebuah virus bernama “ExploreZip”. Ribuan komputer yang menerima pesan seperti itu terinfeksi. Virus itu secara epidemis mewabah Amerika Serikat dan Eropa. Yang juga akhirnya menghantam beberapa jaringan penting di Singapura. ExploreZip adalah virus yang cara kerjanya mirip Melissa -virus yang juga pernah menghebohkan pengguna internet. Kelebihannya dari Melissa, ExploreZip memiliki efek destruktif yang lebih dahsyat. Karena, ia bukan cuma merusak sistem kerja jaringan, akibat replikasi otomatis yang ditimbulkannya, tapi juga merusak file-file penting di komputer penerima pesan misteri itu.

Maksud hati mengobati rasa penasaran melihat adegan dan foto-foto syur disaat jam kerja, namun yang datang justru tamu tak diundang. Akses terseok-seok, data tak terupdate, komunikasi data antar biro pun terhambat. Apa penyebabnya? Bukan jaringan yang “down” atau “bandwidth” tidak cukup karena “traffic” padat. Tapi komputer terkena virus, angka yang fantastis karena server terjangkit 800 lebih virus. Tentunya bak maling yang bakal tertangkap, semua lantas saling tuding baik orang per orang maupun biro ke biro. Mengapa tidak? Sekitar 900 komputer yang terhubung dalam jaringan, 600 lebih diantaranya bermarkas di gedung “gubernuran” itu.

Tak ayal lagi sebagai langkah untuk memulihkan keadaan, masalah itu tidak selesai dengan hanya saling tuding siapa pelaku serta sanksi apa yang harus diterima mereka, toh mereka masih gagah berdiri mengenakan seragam kebanggaan keluar masuk ruang kantor dengan tetap mengusung nama sebagai abdi negara. Namun tidak memikirkan bagaimana menyelamatkan data-data yang sudah terinfeksi virus, sehingga dapat digunakan kembali untuk melaksanakan tugas sehari-hari berkarya demi bangsa bukan sekedar memenuhi rasa penasaran melihat kemolekan tubuh di dunia maya.

Kemajuan perkembangan Internet dan World Wide Web (WWW) telah menunjukkan suatu langkah ke arah informasi yang pervasif. Konsekuensi dari sistem informasi yang menjadi pervasif adalah timbulnya dampak yang besar pada masyarakat secara luas. Akan banyak industri yang berubah atau digantikan sama sekali. Atau juga akan banyak tumbuh industri baru sesuai dengan kebutuhan perkembangan teknologi informasi itu.

Dari pandangan rekayasa informasi, informasi dapat dipandang sebagai media pertukaran murni. Walaupun ada biaya untuk mengakses, mendistribusikan, ataupun menyimpan informasi, informasi itu dianggap tak ada biayanya. Pada organisasi modern, dan dalam bahasan ekonomis secara luas, informasi telah menjadi komoditas yang sangat berharga, dan telah berubah dan dianggap sebagai sumber daya habis terpakai, bukannya barang bebas. Dalam suatu organisasi perlu dipertimbangkan bahwa informasi memiliki karakter yang multivalue, dan multidimensi. Dari sisi pandangan teori sistem, informasi memungkinkan kebebasan beraksi, mengendalikan pengeluaran, mengefisiensikan pengalokasian sumber daya dan waktu. Sirkulasi informasi yang terbuka dan bebas merupakan kondisi yang optimal untuk pemanfaatan informasi.

Patut diketahui tak ada yang tahu pasti berapa jumlah virus komputer yang beredar di dunia hingga kini. Beberapa perusahaan anti-virus berusaha mengumpulkan jumlah itu, dan menemukan tak kurang dari 100.000 jenis virus hingga kini tersebar di seluruh dunia. Jumlah sebenarnya disinyalir jauh melebihi angka itu.

Mengapa virus komputer tumbuh dengan subur, dan mengapa pertumbuhan itu tidak diiringi dengan keberhasilan usaha penangkalan oleh perusahaan-perusahaan pembuat program anti-virus? Beberapa pengamat komputer mengatakan bahwa ada semacam “blessing in disguise” bagi perusahaan-perusahaan anti-virus dengan tak bisa dihentikannya penyebaran virus-virus komputer.

Jika virus-virus bisa segera dimusnahkan, tentulah perusahaan-perusahaan yang berfungsi mirip dokter itu bakal tutup, akibat sudah tidak ada lagi “pasien” yang harus disembuhkan. Karenanya, jangan heran jika ada orang yang curiga kalau perusahaan-perusahaan itu juga ikut “bermain” dalam menciptakan virus-virus itu. Tujuannya adalah keuntungan dari penciptaan program-program anti-virus. Alasan lain mengapa komunitas virus tumbuh dengan subur adalah mudahnya pembuatan program penyakit itu, serta minimnya etika dan tanggung jawab profesi. Asal bisa mengetahui sistem kerja sebuah program aplikasi, siapa saja bisa membuat virus untuk kemudian masuk ke dalam sistem itu. Karena biar bagaimanapun, membuat sebuah virus adalah tantangan dan sekaligus godaan besar.

Kompleksitas kemajuan teknologi informasi juga memberikan kesempatan bagi seseorang melemparkan tanggung-jawab pada bagian lain, atau pada komputer, bahkan yang lebih buruk lagi produsen pun dapat melepaskan tanggung jawab ini (misal pada kasus virus di perangkat lunak ini).

Dipandang perlu kiranya dibentuk etika profesi bagi kalangan yang berkecimpung di bidang teknologi informasi, layaknya etika profesi yang ditetapkan di bidang ilmu kedokteran dan cabang ilmu yang lain.

Bagaimanapun ada tiga prinsip dasar untuk sebuah tanggung jawab moral yang terkait dengan profesi seseorang, yaitu (1) kita bertanggung jawab untuk setiap kerugian jika itu adalah konsekuensi dari sesuatu yang kita lakukan atau jika itu terjadi dalam rangka intervensi kita terhadap suatu proses; (2) kita bertanggung jawab jika kerugian terjadi karena kelalaian; (3) kita bertanggung jawab untuk kerugian yang timbul jika kita mengetahui bahwa ada orang yang akan melakukan sesuatu yang menimbulkan kerugian dan kita membiarkan itu terjadi.

Jika kerugian terjadi, kesalahan mereka yang bertanggung jawab tetap harus dilandasi pertimbangan dasar yaitu apakah itu terjadi karena (1) kesengajaan, (2) kecerobohan, (3) atau kelalaian. Prinsip-prinsip dasar inilah yang melandasi setiap tindakan seseorang terkait dengan profesinya.

Kemajuan teknologi seringkali justru membuat kita melakukan hal-hal bodoh dengan cara yang cerdik. Menghadapi situasi ini, satu-satunya sikap kritis yang pada akhirnya tetap harus dipertahankan adalah bahwa sangat tidak realistik untuk berpikir bahwa teknologi, di dalam menawarkan solusi terhadap situasi problematik, betapapun maju dan canggihnya teknologi tersebut, tidak mempunyai efek samping, yang akan menimbulkan masalah baru. Di lain pihak, kita juga tidak bisa meremehkan ketergantungan kita ke teknologi modern.

Sikap utama yang harus dibentuk di dalam adalah kesadaran bahwa teknologi tetap harus terikat ke aspirasi kita sebagai umat manusia, dengan impian dan cita-cita akan masa depan yang lebih baik di dalam kebudayaan teknologi. Sebuah imperatif yang harus dipegang adalah, tidak pernah seorang manusia pun boleh dijadikan tujuan di luar dirinya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s