Berkaca Dari Peristiwa Berdarah 30 September 1965

Sejarah Indonesia mencatat pemberontakan tangan besi komunisme mencapai puncaknya dengan pembunuhan Jenderal-Jenderal pada 30 September 1965. Dampaknya, selain kemunduran Soekarno, adalah pembantaian jutaan nyawa manusia baik oleh PKI maupun oleh tentara dan rakyat yang anti PKI. Kini kita berada jauh dari era 65, namun kita tidak bisa menutup mata untuk kembali melihat dampak peristiwa bersejarah itu hingga hari dan detik ini.

Dalam sebuah buku yang diberi kata pengantar oleh Goenawan Moehammad, setidaknya ada empat teori lain selain teori buku putih Orde Baru yang menempatkan PKI sebagai pelaku utama. Teori pertama dari Cornell Paper yang menyebut peristiwa itu sebagai persoalan konflik intern AD dan pelaku utamanya adalah sebuah klik Angkatan Darat dan baru melibatkan PKI di bagian akhir. Teori kedua : Dalangnya adalah CIA (Pemerintah AS) yang ingin menjatuhkan Soekarno dan kekuasaan Komunis (teori Domino) dengan memperalat PKI. [Peter Dale Scott dan Geoffrey Robinson]. Teori ketiga : Rencana Inggris bertemu dengan skenario besar AS dalam perang dingin. Inggris berkepentingan untuk mengamankan aset-asetnya dengan cara menghentikan politik ofensif Soekarno. [Greg Poulgrin]. Dan teori keempat yaitu : Dalangnya adalah Presiden Soekarno yang ingin melenyapkan oposisi sebagian perwira tinggi AD dan PKI ikut terseret akibat ketergantungannya kepada Soekarno. [Antonie Dake dan John Hughes]. Teori-teori tersebut jelas memunculkan ‘ruang debat’ baru bagi sejarah. Namun tetap saja teori-teori tersebut tidak dapat melepaskan realita bahwa orang-orang komunislah pelaku pembunuhan dan pembantaian, yang menjadi korban sebenarnya adalah keluarga atau tetangganya sendiri.

Selain berlandaskan pada teori perjuangan kelas, yang bertujuan terbentuknya diktatorial proletariat, komunisme (Marxist-Leninist) pada dasarnya juga meletakkan materialisme sebagai pondasi utama berpikir. Conner Cliff (1980) dalam buku Keruntuhan Teori Evolusi karya Harun Yahya (2000) mengemukakan bahwa Karl Marx pernah memberikan pujian kepada Darwin yang mengarang The Origin of Species dengan menuliskan bahwa “Inilah buku yang berisi landasan sejarah alam bagi pandangan kami”.

Marx juga menyatakan bahwa teori Darwin memberikan dasar yang kokoh bagi materialisme dan tentu saja bagi komunisme. Bahkan Marx mempersembahkan buku Das Kapital karya terbesarnya, dengan tambahan tulisan dicover depannya kalimat :”Dari seorang pengagum setia kepada Charles Darwin”. Dengan merujuk pada teori materialisme evolusi, komunisme berusaha membenarkan diri dan menampilkan ideologinya sebagai sesuatu yang logis dan benar.

Kerusakan ajaran materialisme tidak hanya terbatas pada tingkat individu. Ajaran ini juga mengarah untuk menghancurkan tatanan sakral keluarga, nilai-nilai dasar suatu negara dan menciptakan sebuah masyarakat tanpa jiwa dan rasa sensitif. Anggota masyarakat yang demikian tidak akan memiliki idealisme seperti patrotisme, cinta bangsa, keadilan, loyalitas, kejujuran, pengorbanan, kehormatan dan moral yang baik sehingga tatanan sosial yang dibangunnya -yang disebut internasionale–pasti akan hancur dalam waktu singkat. Karena inilah, Stalin bahkan tega membunuh istrinya sendiri dan Trotsky yang menjadi sahabat karibnya. Atau lihat saja track record komunis Indonesia yang melakukan pemberontakan dan pengkhianatan saat bangsa Indonesia sedang bertempur gigih menghadapi Agresi Militer Kolonial Belanda 1948.

Materialisme, sesungguhnya mengajarkan bahwa tidak ada sesuatupun selain materi yang menjadi esensi dari segala sesuatu, baik yang hidup maupun tak hidup. Berawal dari pemikiran ini, materialisme mengingkari keberadaan Sang Maha Pencipta, yaitu Allah atau dengan kata lain menjadi atheis. Inilah awal dari bencana besar yang akan menimpa hidup manusia. Nonsense jika ada yang mengatakan bahwa komunis tidak anti agama. Seorang komunis sejati pasti menghayati betul sikap Marx terhadap agama. Karl Heinriuch Marx berkata, “Agama adalah keluh-kesah makhluk tertindas, hati nurani dan dunia yang tak berhati, tepat sebagaimana ia adalah jiwa dari keadaan yang tak berjiwa. Dia adalah candu rakyat.” (O Hashem: Marxisme dan Agama, hal 71).

Deretan panjang kekejaman komunis terhadap kaum beragama, khususnya Islam, telah menjadi saksi sejarah yang tidak dapat dibantah karena begitu jelas dan gamblang. Mulai dari Rusia, Checnya, Cina, Bulgaria, Albania, Kuba, Afganistan, Vietnam, dan Indonesia. Bahkan Lenin sempat berkata bahwa “Hancurnya tiga perempat dunia tidak menjadi persoalan, sebab yang penting ialah agar sisanya yang seperempat lagi menjadi komunis.” (WAMY, 2002)

Bahkan Tan Malaka dalam bukunya Madilog (Materialisme Dialektika Logika) yang diterbitkan Teplok Press (2000) memberi julukan mistikus pada orang-orang beragama (hal. 328), yang dianggapnya tak mau bersusah-susah mengukur berapa jaraknya matahari dengan bumi atau berapa derajat panasnya matahari, karena semua itu sudah merupakan ketentuan Ilahi. Ia juga tak mempercayai life after death seperti keberadaan surga dan sangat mengecam kerudung perempuan Islam yang menutupi tubuhnya sebagai salah satu bentuk penjajahan kelas.

Komunisme juga mempunyai kelebihan yang tak dimiliki oleh gerakan pemikiran lainnya. Diluar prinsip materialisnya, hingga saat ini teori Marxisme-lah yang secara radikal bisa menelanjangi borok kapitalisme. Dengan dialektika logikanya, komunisme merangsang manusia untuk lebih mengoptimalkan daya berpikir rasionalitas dan menolak hal-hal yang bersifat dogmatis. Sehingga luaran produknya adalah timbulnya daya kritisme masyarakat pada sebuah rezim yang sedang berkuasa. Komunisme akan selalu menjadi penghalang kesewenang-wenangan pemilik modal dan penghisapan rakyat jelata.

Secara garis besar, langkah-langkah untuk menempatkan komunisme agar layak hidup di negeri ini adalah dengan memutihkan sejarah kelamnya, menghapus perangkat hukum yang melarangnya, mendekonstruksi paradigma negatif komunis dan merekonsiliasi sosiokultural masyarakat Indonesia.

Namun sebagai generasi penerus yang akan menjalani kemajuan peradaban beserta benturan-benturannya, berhadapan dengan gerakan pemikiran seperti komunisme adalah sebuah keniscayaan, karena komunisme tak akan pernah dapat mati dengan Ketetapan MPR saja atau dengan tindakan represifitas lainnya. Sehingga ujung tombak dalam melakukan perlawanan terhadap komunisme bukanlah berupa perlindungan perangkat hukum akan tetapi melalui pendidikan yang berdimensi horisontal (kemasyarakatan) dan vertikal (ke-Ilahian), pembentukan kepribadian dan keteladanan pemimpin negara yang dibarengi dengan kondisi bangsa yang menjunjung tinggi keadilan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Saat ini mungkin kita masih bisa sedikit berlega hati karena setidaknya keadaan-keadaan seperti belum memungkinkan tumbuh berkembang di Indonesia. Tapi entah esok atau lusa mungkin konsekuensinya PKI bisa tumbuh di Indonesia. Wallahu ‘alam..

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s