Akses ke Blog ini sudah dialihkan

Untuk mengakses situs pribadi saya , silahkan klik :

www.rijalfadilah.net

regards,

Rijal Fadilah

Torang samua basodara ; Podho dulur ojo tawur..

“Torang samua basodara” ; -mohon maaf jika ejaan salah- setidaknya ungkapan itu yang pertama kali saya dengar ketika baru saja menginjakkan di Bandara Sam Ratulangi Menado beberapa waktu yang lalu. Ya, saat itu saya ada di bumi Sulawesi Utara, setelah menempuh perjalanan yang melelahkan dari Jakarta. Si empunya rumah seorang Kolonel yang mengundang saya kesana langsung mengajak saya ke salah satu restoran di kota tersebut. Restoran “Malioboro” masih melekat diingatan saya nama restoran tersebut. Spontan “Dan, — beliau biasa dipanggil Komandan– mohon maaf sekarang kita di Jogja atau Menado?” penuh tanya. “Ah loe Jal bisa aja, dimanapun kita berada, kita tetap di Indonesia khan? Kecuali besok pagi kalau kita ke Filipina, loe gak bisa cari bubur Menado disana.”

Setelah sekarang mencoba untuk “homy” di Balikpapan, nuansa dari daerah tertentu juga masih terasa & teringat, seperti ketika dua malam yang lalu saya mencoba makan “Rawon Setan” dibilangan MT Haryono. Walaupun beda, tapi saya masih menikmati “rawon setan” asli yang pernah saya rasakan di depan Hotel JW Marriot Surabaya. Demikian pula ketika kemarin malam saya diajak makan di Open House Restoran, disajikan sambal dabu-dabu khas Menado, sebagai pelengkap sajian ikan bakar hingga “tempe mendoan” makanan khas anak kost. Walaupun serasa ada yang hilang ketika di Balikpapan saat ini saya tidak bisa menikmati “Gudeg Ceker” khas Jogja lagi..
Continue reading

Calon Independen, Alternatif Rekruitmen Politik

Wacana munculnya calon independen dalam kancah percaturan politik di Indonesia, ditanggapi berbagai kalangan dengan berbagai persepsi pula. Setidaknya ada dua pemetaan untuk menanggapi wacana calon independen ini. Yang pertama, kelompok pendukung pelembagaan demokrasi. Mereka berpendapat hanya partai politik yang berhak menyalurkan atau menjadi kendaraan politik bagi calon eksekutif. Alasan ini berangkat dari kekhawatiran matinya parpol sebagai saluran aspirasi dan rekrutmen politik dalam sebuah sistem politik, jika calon independen yang diakomodasi berujung pada hancurnya pelembagaan demokrasi. Lebih jauh mereka berpendapat, jika fungsi partai sebagai aspirasi dan rekrutmen politik lemah, itu adalah hal yang wajar. Karena, umur demokrasi dan partai politik di Indonesia masih muda, masih dalam tahap trial and error. Alasan lain adalah kita masih berada di era transisi demokrasi, atau pakar lain berpendapat kita masih di alam konsolidasi demokrasi menuju demokrasi. Kritik terhadap pendapat ini adalah sama seperti pendapat para pakar pendukung teori transisi demokrasi. Dengan mengatakan ada periode transisi, segala kebobrokan mendapatkan maaf seluas-luasnya. Pendapat ini tidak ada bedanya dengan pendapat kalangan Marxian yang mencita-citakan munculnya masyarakat tanpa kelas. Atau bahkan mitos masyarakat Jawa yang percaya akan munculnya ratu adil. Jika kepala daerah bukan dari parpol yang notabene anggota legislatif juga berasal dari parpol. Mereka khawatir akan munculnya kembali kemandegan politik berupa konflik legislatif dan eksekutif.

Continue reading

I T Student, who you are?

Empat tahun berkutat dengan dunia public relation untuk sebuah perguruan tinggi swasta, empat tahun pula ‘dicurhati’ calon mahasiswa, mahasiswa baru, bahkan orangtua mereka dengan berbagai macam problematika dan dinamika “siswa yang maha” ini. Apalagi jika ditanya, “Mas Rijal dulu kuliahnya jurusan apa?” — saya jawab “IKOM” — “Ouww pantesan komunikatif dan enak diajak ngobrol..” –Hallah..– “Pasti mikirnya IKOM = Ilmu Komunikasi”, saya jelaskan IKOM itu Ilmu Komputer, berkembang lagi pertanyaannya “Bedanya dengan Teknik Informatika apa mas? Kalau Manajemen Informatika? Koq Mas Rijal S.Si? Bukan S.Kom? Koq Mas Rijal jadi public relation? bukan programmer?” Bla..bla..bla.. (Ketik:C<spasi>D, Capek Dech…) -Gak koq, gak capek, kunikmati pekerjaan itu-

Continue reading

Berani Mencoba

Pernahkah suatu saat bertemu dengan seseorang yang bangga karena tidak pernah melakukan kesalahan sebagai konsekuensi logis karena dia juga jarang melakukan sesuatu. Menyebalkan ya??

Continue reading

Berpikir Positif

Orang-orang besar lahir dari cita-cita, mimpi-mimpi, dan harapan besar. Terkadang cita-citanya dianggap konyol oleh lingkungannya pada waktu itu. Yang lebih seram lagi tidak hanya sekedar konyol, tetapi nyawa pun bisa melayang karena ide-ide yang dianggap tidak lazim. Contohnya Copernicus, misalnya ketika ia mengatakan bahwa bumi itu bulat sebab perputarannya beporos pada matahari. Akibatnya ia nyaris menghadapi hukuman bakar hidup-hidup karena menentang doktrin gereja. Wah…

Continue reading

Anger Management — Manajemen Marah

Tertarik setelah nonton film Anger Management beberapa jam yang lalu di salah satu tv swasta. Sekedar refleksi ternyata apa yang selama ini saya lakukan untuk mengendalikan amarah kurang tepat juga, “lebih baik diam” juga ternyata kurang tepat. Kesimpulan itu muncul setelah membaca beberapa tulisan di Human Medicine dan beberapa tulisan lain di beberapa situs. Sekedar untuk berbagi beberapa hal saya sampaikan disini :

Amarah manusia muncul karena adanya dorongan agresif yang lazim disebut dengan istilah human agressive. Dorongan rasa marah ini bisa saja muncul karena sesuatu terjadi di luar dugaan atau di luar perhitungan. Harapan yang tinggi sementara kenyataannya tidak demikian juga bisa menyebabkan kekecewaan dan dapat memicu rasa marah.

Secara garis besar dorongan marah itu disebabkan oleh dua faktor. Pertama, faktor internal (dari dalam diri). Ada konflik internal yang tidak bisa terselesaikan dan akhirnya keluar dalam bentuk marah. Misalnya Anda merasa gusar karena tak bisa bangun pagi sehingga selalu terlambat rapat dengan klien. Kedua, faktor eksternal. Misalnya, ada provokasi dari luar.
Continue reading